Lelaki Yang Mencoba
Membunuh Sherlock Holmes
Apa yang terjadi jika seorang tokoh
fiksi yang begitu dicintai oleh pembacanya tiba-tiba diputuskan akhir hidupnya
oleh sang penulis? Ketika Sir Arthur Conan Doyle memutuskan untuk ”mematikan”
Sherlock Holmes dalam cerita The Final
Problem yang dimuat dalam majalah The
Strand edisi Desember 1893, para pembaca fanatiknya bereaksi dengan keras.
Majalah The Strand yang rutin
menerbitkan serial Sherlock Holmes kehilangan 20.000 pembaca setianya. Para
penggemar Sherlock Holmes berkumpul di jalanan dengan mengenakan pita lengan
berwarna hitam dan para pekerja kantoran memakai lambang berkabung diatas topi
mereka.
Sir
Arthur Conan Doyle tidak pernah menyangka bahwa tokoh fiksi rekaannya begitu
digandrungi oleh pembaca dari berbagai penjuru dunia. Para pembaca fanatiknya
bahkan mulai meyakini bahwa sosok Sherlock Holmes benar-benar tinggal di Baker Street 221 B, Sir Arthur Conan
Doyle yang sebenarnya memendam obsesi untuk mempopulerkan novelnya yang bertema sejarah, merasa semakin
terbayangi dengan sosok detektif imajiner ini. Dia ingin melepaskan diri dan
mencoba peruntungan baru dengan tema yang lebih disukainya. Bahkan, sang ibu
yang memohon agar tidak membunuh Sherlock Holmes pun tidak bisa menghalangi
tekadnya.
Benarkah
alasan utama Sherlock Holmes diakhiri kisahnya karena sang penulis merasa
“terintimidasi” dengan kesuksesan tokoh rekaannya?
David
Pirie, seorang penulis skenario, dalam proses penulisan skenario drama tentang
kehidupan. Doyle menemukan beberapa fakta unik yang dianggapnya berkaitan. Ada dua
orang yang sangat berpengaruh dalam kehidupan Doyle, sang ayah, Charles Doyle,
dan Dr.Joseph Bell, seorang dokter yang pernah mempekerjakannya sebagai juru
medis pribadinya, yang menjadi seorang mentor sekaligus sosok yang dikagumi
Doyle.
Doyle
banyak mengadopsi karakter dari kedua orang tersebut dalam sosok Holmes. Sang
ayah kecanduan alkohol dilanda depresi mental dan obat-obatan, serta dilanda
depresi mental membuat sang ibu akhirnya berselingkuh dengan seorang dokter.
Meskipun memahami alasan sang ibu melakukan hal itu, dia tetap merasa bahwa
ibunya telah menghianati ayahnya. Doyle terkadang menggunakan gambar illustrasi
karya ayahnya dalam cerita Sherlock Holmes yang ditulisnya. Di sisi lain, Doyle
merasa menemukan sosok ayah dalam diri Dr.Joseph Bell yang karismatik dan
cerdas. Masalah semakin bertambah ketika sang istri divonis mengidap sakit
perut akut.
Pada
tanggal 10 Oktober 1893 Charles Doyle meninggal. Pada tahun yang sama Sherlock
Holmes menemui ajalnya saat bertarung dengan musuh terbesarnya.
Doyle
mulai memenuhi obsesinya untuk menuliskan novel bertema sejarah. Dia
menciptakan tokoh fiksi baru bernama Etinne Gerard, seorang serdadu dalam
pasukan Napoleon. Namun, tetap saja tak bisa menyaingi kepopuleran Sherlock
Holmes. Pada tahun 1901 dia akhirnya menerima “kenyataan” bahwa para pembaca
sudah terlanjur tak bisa memisahkan antara namanya dan nama sang detektif
karyanya, dia pun menulis serial Sherlock Holmes lagi. Kembalinya Sherlock
Holmes dari fakta dibalik “kematiannya” dikupas dalam cerita The Adventure of The Empty House yang terbit pada tahun 1903.
Publik
akhirnya bisa menikmati lagi kisah petualangan Sherlock Holmes bersama
Dr.Watson setelah bangkit dari kematian. Tercatat ada dua novel dan tiga
kumpulan cerita Sherlock Holmes yang ditulis Doyle pada masa kebangkitan Holmes
ini.
Namun,tampaknya
Doyle memang tak ingin selamanya hidup bersama tokoh rekaannya itu. Sherlock
Holmes akhirnya pensiun dalam cerita berjudul His Last Bow yang terbit tahun 1917. Meskipun demikian, cerita
Sherlock Holmes yang terakhir yang ditulis Doyle adalah cerita yang berjudul Shoscombe Old Place yang terbit tahun
1927. Tiga tahun kemudian Doyle meninggal dunia
Setelah
beroleh sukses dengan Sherlock Holmes, Doyle selalu berusaha untuk tidak sesalu
disandingkan dengan tokoh ciptaannya itu. Dia membuat Holmes terbunuh,bagkit
lagi, akhirnya pensiun bahkan menghentikan sama sekali menulis cerita dengan
tokoh Sherlock Holmes. Namun yang terjadi, dia tak pernah benar-benar bisa
“membunuh” Sherlock Holmes. Jutaan pembaca dari segala penjuru dunia sudah
terlanjur jatuh hati mendalam pada sosok ini.
Kenyataan
ini seolah-olah membuat Sherlockian, para penggemar setia, menganggap Sherlock
Holmes laksana orang suci yang bisa mati, lalu bangki ,dan hidup kembali.
Entah sudah berapa banyak kumpulan
cerita dan novel Sherlock Holmes yang telah diterjemahkan dan diterbitkan
hingga saat ini, termasuk buku yang Anda nikmati saat ini. Kronik tentang sisi
lain dari kehidupan penulisnya disajikan untuk memperluas pemahaman tentang
betapa sang tokoh fiksi tersebut tetap tidak bisa dipisahkan dari sosok yang
menghadirkannya ke hadapan pembaca setianya. Selamat membaca, Sherlockian!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar