Kamis, 07 September 2017

The Man Who Tried to Kill Sherlock Holmes



Lelaki Yang Mencoba Membunuh Sherlock Holmes

          Apa yang terjadi jika seorang tokoh fiksi yang begitu dicintai oleh pembacanya tiba-tiba diputuskan akhir hidupnya oleh sang penulis? Ketika Sir Arthur Conan Doyle memutuskan untuk ”mematikan” Sherlock Holmes dalam cerita The Final Problem yang dimuat dalam majalah The Strand edisi Desember 1893, para pembaca fanatiknya bereaksi dengan keras. Majalah The Strand yang rutin menerbitkan serial Sherlock Holmes kehilangan 20.000 pembaca setianya. Para penggemar Sherlock Holmes berkumpul di jalanan dengan mengenakan pita lengan berwarna hitam dan para pekerja kantoran memakai lambang berkabung diatas topi mereka.
            Sir Arthur Conan Doyle tidak pernah menyangka bahwa tokoh fiksi rekaannya begitu digandrungi oleh pembaca dari berbagai penjuru dunia. Para pembaca fanatiknya bahkan mulai meyakini bahwa sosok Sherlock Holmes benar-benar tinggal di Baker Street 221 B, Sir Arthur Conan Doyle yang sebenarnya memendam obsesi untuk mempopulerkan novelnya  yang bertema sejarah, merasa semakin terbayangi dengan sosok detektif imajiner ini. Dia ingin melepaskan diri dan mencoba peruntungan baru dengan tema yang lebih disukainya. Bahkan, sang ibu yang memohon agar tidak membunuh Sherlock Holmes pun tidak bisa menghalangi tekadnya.
            Benarkah alasan utama Sherlock Holmes diakhiri kisahnya karena sang penulis merasa “terintimidasi” dengan kesuksesan tokoh rekaannya?
            David Pirie, seorang penulis skenario, dalam proses penulisan skenario drama tentang kehidupan. Doyle menemukan beberapa fakta unik yang dianggapnya berkaitan. Ada dua orang yang sangat berpengaruh dalam kehidupan Doyle, sang ayah, Charles Doyle, dan Dr.Joseph Bell, seorang dokter yang pernah mempekerjakannya sebagai juru medis pribadinya, yang menjadi seorang mentor sekaligus sosok yang dikagumi Doyle.
            Doyle banyak mengadopsi karakter dari kedua orang tersebut dalam sosok Holmes. Sang ayah kecanduan alkohol dilanda depresi mental dan obat-obatan, serta dilanda depresi mental membuat sang ibu akhirnya berselingkuh dengan seorang dokter. Meskipun memahami alasan sang ibu melakukan hal itu, dia tetap merasa bahwa ibunya telah menghianati ayahnya. Doyle terkadang menggunakan gambar illustrasi karya ayahnya dalam cerita Sherlock Holmes yang ditulisnya. Di sisi lain, Doyle merasa menemukan sosok ayah dalam diri Dr.Joseph Bell yang karismatik dan cerdas. Masalah semakin bertambah ketika sang istri divonis mengidap sakit perut akut.
            Pada tanggal 10 Oktober 1893 Charles Doyle meninggal. Pada tahun yang sama Sherlock Holmes menemui ajalnya saat bertarung dengan musuh terbesarnya.
            Doyle mulai memenuhi obsesinya untuk menuliskan novel bertema sejarah. Dia menciptakan tokoh fiksi baru bernama Etinne Gerard, seorang serdadu dalam pasukan Napoleon. Namun, tetap saja tak bisa menyaingi kepopuleran Sherlock Holmes. Pada tahun 1901 dia akhirnya menerima “kenyataan” bahwa para pembaca sudah terlanjur tak bisa memisahkan antara namanya dan nama sang detektif karyanya, dia pun menulis serial Sherlock Holmes lagi. Kembalinya Sherlock Holmes dari fakta dibalik “kematiannya” dikupas dalam cerita The Adventure of The Empty House  yang terbit pada tahun 1903.
            Publik akhirnya bisa menikmati lagi kisah petualangan Sherlock Holmes bersama Dr.Watson setelah bangkit dari kematian. Tercatat ada dua novel dan tiga kumpulan cerita Sherlock Holmes yang ditulis Doyle pada masa kebangkitan Holmes ini.
            Namun,tampaknya Doyle memang tak ingin selamanya hidup bersama tokoh rekaannya itu. Sherlock Holmes akhirnya pensiun dalam cerita berjudul His Last Bow yang terbit tahun 1917. Meskipun demikian, cerita Sherlock Holmes yang terakhir yang ditulis Doyle adalah cerita yang berjudul Shoscombe Old Place yang terbit tahun 1927. Tiga tahun kemudian Doyle meninggal dunia
            Setelah beroleh sukses dengan Sherlock Holmes, Doyle selalu berusaha untuk tidak sesalu disandingkan dengan tokoh ciptaannya itu. Dia membuat Holmes terbunuh,bagkit lagi, akhirnya pensiun bahkan menghentikan sama sekali menulis cerita dengan tokoh Sherlock Holmes. Namun yang terjadi, dia tak pernah benar-benar bisa “membunuh” Sherlock Holmes. Jutaan pembaca dari segala penjuru dunia sudah terlanjur jatuh hati mendalam pada sosok ini.
            Kenyataan ini seolah-olah membuat Sherlockian, para penggemar setia, menganggap Sherlock Holmes laksana orang suci yang bisa mati, lalu bangki ,dan hidup kembali.
            Entah sudah berapa banyak kumpulan cerita dan novel Sherlock Holmes yang telah diterjemahkan dan diterbitkan hingga saat ini, termasuk buku yang Anda nikmati saat ini. Kronik tentang sisi lain dari kehidupan penulisnya disajikan untuk memperluas pemahaman tentang betapa sang tokoh fiksi tersebut tetap tidak bisa dipisahkan dari sosok yang menghadirkannya ke hadapan pembaca setianya. Selamat membaca, Sherlockian!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar